Satu kisah dimulai... Seorang gadiz nan canti jelita amat sangat memulai hari2 sperti biasany, brangkat ke kampus dg pakaian super trendy and super ketat yg membuat smua jantung lelaki b'degub kencang krna melihatny. Sebut sja nmanya Izzah, nma yg cantik sesuai dg parasny.
Bebrapa saat stelah dia masuk hlaman kampus, saat berjalan datanglah seorang cowox yg gagah atletis bak binaraga turun dari mobil Ferrari merah dg tenang menyapanya. Dia adlah Nazar pemuda tampan anak Konglomerat terkaya,
Nazar "Hi Izz, ada yg mau q ungkapkan pda mu, isi hati yg slma ini q pendam"
"Katakan saja" jawab Izzah sekenanya.
"aq tramat sngat mencintaimu, apapun akan q lakukan untukmu walaupun aq harus membeli sluruh isi kota ini untukmu tuk buktikan rasa cinta q pdamu" kata Nazar.
"Apa yg menyebabkan kau jatuh cinta pda q?" jawab Izzah
"Krna engkau sangat cantik dan tak ada gadis manapun yg mampu menyamainy" jwb nazar
Tpi Izzah menjawab lain "maaf, q msih ada jam kuliah jdi q hrus sgera msuk ke kelas" dan pemuda itu dia tinggalkan tanpa jwaban yg jelas.
Dua hari kmudian saat dia bru branjak dri kelas, datanglah seorang pemuda berkopyah yg trlihat sangat alim, entah betul2 alim atau hnya gayany yg sok alim, tiba2 menyapanya. Pemuda itu b'nama Faruq, "Assalamualaikum, ada yg ingin q katakan pdmu Izz"
"Waalaikum salam, silahkan"kta izzah
Faruq,"aq sangat mencintaimu dan aq ingin menikahimu"
"Knapa kau mencintai q? Tnya Izzh kmbli.
"Krna Allah" jwab Faruq dg mantabny.
Tiba2 Izzah brlari sambil berkata "Maaf q hrus sgera pergi krna aq sudah ditunggu oleh ayah q" dan Faruq pun hrus puas dg jawaban yg tidak jelas dri Izzah.
Seminggu kmudian saat di kampus, kmbali seorang pemuda yg tidak t'lalu tmpan dan tidak kaya pula datang mnemui Izzah, dia langsung b'kta pdny. "ada yg ingin q ktakan pdamu Izz" kta pmuda itu.
"Pasti kau ingin berkata kalau kau mencintai aq krna aq cantik dan kau mencintai aq krna Allah" jwb Izz dg nada sinis.
"Tidak....!!!, Tidak....!!!!, aq tidak akan mengatakan krna itu aq mencintaimu" kta si pemuda smbil b'pling akan pergi.
"lalu? Krna apa?" Izzah balik b'tnya.
"Krna syeitan, krna dia aq slalu memikirkanmu dan slalu membayangkanmu. Krna dia pula aq slalu mnunggumu lewat tiap hari tuk mnikmati wajah cantikmu yg tk b'krudung. Dan krna dia pula aq slalu mngikutimu tuk mnikmati indahny lekuk bentuk tubuhmu ya slalu kau tutup dg pakaian ketat dan mini itu, maafkan aq Izz...? Jawa pmuda itu sambil brjalan menjauh mninggalkan gadis nan cantik jelita itu.
Saat bru b'jlan bbrpa langkah tiba2 Izzah kmbali memanggil kmbali si pemuda dan bertnya "hei, siapa namamu?" dan pmuda itu menjawab "apalah arti sbuah nma q bagi kau yg sangat catik ini, lebih baik kau tdk thu nma q agar aq bsa mlupakanmu walau sbetulnya q sangat mencintaimu...." jawab si pemuda sambil berlari mmbwa rasa sedih di htinya.
Beberapa tahun kmudian, di branda sbuah rumah. Seorang pmuda duduk smbil mnikmati indahny sinar mentari pgi di sapa oleh ibunya, "Hi Adi... Smpai brpa lama kau akan slalu mengingat gadis impianmu itu?? Aq ingin sgera mlihatmu mnikah..." kta si ibu,
"Entahlah bu, q msih blum mnemukan gadis seperti dia" jawab adi.
"Ibu telah memilihkan seorang gadis putri teman ibu dan kali ini kau harus ikut khitbah untuk menemuinya, jangan sperti yg kmrin2 kau mnolak gadis2 yg ibu jodohkan untukmu" kta si Ibu kmbli.
"Baiklah bu... Trserah ibu, kali ini aq ikut apa kata ibu saja, asal ibu senang...." jwab Adi brharap agar ibunya tdak marah pdanya.
Keesokan harinya, Adi dan ibunya brangkat mnuju kota mnemui tmanny. Saat sampai di rumah tmn ibunya dia sempat kaget krna rumah itu sangat megah, jauh sekali dg rumahny sendiri. Sang tuan rumah pun menyambut kdatangan Adi dan ibuny. Saat ibuny bersenda gurau dg tuan rumah, Adi minta izin untuk brjalan2 di hlaman rumah. Saat b'jln2 di hlaman rumah tiba2 dia mlihat seorang gadis yg memakai krudung dg pkaian sari yg sngat anggun b'jlan mnemuiny. "Kau psti Adi, putra dri teman ibu q khan?" tnya si gadis
" dan kau psti lupa siapa aq" tnya si gadis itu kmbli. Adi yg hnya trtegun keheranan hnya bisa mengangguk mlihat gadis secantik itu di hdapannya.
"aq Izzah, nma lengkap q Aisyah Izzatul Fardhah, munkin kau lupa tpi q b'hrap kau msih mngingat q..." kta si gadis
" aq tdak lupa, tpi aq sngat terkejut kau sngat brubah. Mulai dri pkaianmu dan smuanya jauh dri Izzah yg aq kenal dulu... Bgaimana bisa Izz?" tnya Adi
"entahlah, q jg tdk bsa menjwabny. Tpi q brubah stelah kita b'tmu dulu dan aq slalu b'doa smoga q di bri jodoh yng t'baik mnurut Allah dan Alhamdulillah t'nyata pemuda yg tlah lama q tunggu itu akhirnya datang, kau Adi..." dan mreka b'dua tersenyum mnikmati indahnya takdir yg akhirny p'tmukan kmbli di saat Khitbah trakhir bgi Adi ..... Barakallahu lakuma wa baroka alaikuma...
Cerita fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan nama dalam cerita ini hanya kebetulan belaka wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
Lirik Lagu baru
Minggu, 15 Juli 2012
Pedagang Tempe
Subhanallah... cerita ini dijamin sangat menarik untuk dibaca... mudah-mudahan menjadi pencerahan juga hikmah bagi saya dan pembaca umumnya...
Selamat mengikuti...
Sebuah desa bernama Desa nan sepi. Disitu ada seorang perempuan tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber pendapatannya untuk menyambung hidup. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.
Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersadar yang tempenya yang diperbuat dari kacang kedelai hari itu baru separuh jadi. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah semuanya belum jadi. Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe separuh jadi pasti tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman Allah yang menyatakan bahawa Allah dapat melakukan perkara-perkara ajaib,bahwa bagiNya tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , "Ya Allah , aku memohon kepadaMu agar kacang kedelai ini menjadi tempe. Amin" Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat yakin bahawa Allah pasti mengabulkan doanya.
Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya dan dia pun membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang kedelai. Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh Allah. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu bahawa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe karena inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang kedelaiku ini menjadi tempe, Amin". Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan heran karena tempenya masih tetap begitu!! Sementara itu hari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mula didatangi orang ramai. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walau bagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia berenca untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu.
Perempuan tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan bepergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan jadi. Dia berfikir mungkin keajaiban Allah akan terjadi dalam perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Ya Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin". Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampai di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah jadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada. Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih setengah jadi!! Dia lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Allah karena doanya tidak dikabulkan. Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya puncak rezekinya, hasil jualan tempe.
Dia akhirnya cuma duduk sahaja tanpa memamerkan barang jualannya sebab dia berasakan bahwa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi. Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mula kurang. Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, "Ya Allah,berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang setengah ini." Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita. "Maaf ya, saya ingin bertanya, Apakah Ibu menjual tempe yang belum menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk mencarinya tapi masih belum menemukannya." Dia termenung dan terkejut seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe, tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya"Ya Allah, saat ini aku tidak mahu tempe ini menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin". Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun penutup tempenya. Alangkah senangnya dia, ternyata memang benar tempenya masih setengah jadi! Dia pun rasa gembira dalam hatinya dan bersyukur pada Allah. Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang setengah jadi itu. Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, "Mengapa hendak membeli tempe yang belum jadi?" Wanita itu menerangkan bahawa anaknya yang kini berada di Inggris ingin makan tempe dari desa. Melihat tempe itu akan dikirimkan ke Inggris, si ibu tadi harus membeli tempe yang setengah jadi supaya apabila sampai di Inggris nanti akan menjadi tempe yang jadi dan sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah jadi, nanti di sana tempe itu sudah tidak baik lagi dan rasanya pun kurang sedap.
Subhanallah walhamdulillah....
Apa hikmah yang sohib sekalian dapatkan ???
Dalam hal ini Allah mendidik penjual tempe bahwa Allah bukan objek dari doa. Allah bukanlah Dzat yang bisa diperintahkan / dipaksa untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang lemah. Dengan kemaha-tahuannya, Allah memberikan yang lebih baik dari perkiraan sang hamba, sesuai denga rancangan-Nya. Janganlah berputus asa terhadap Allah yang rezekimu ada di tangan-Nya. Penuhi hak-hak Allah darimu dengan berusaha dan berdoa, selebihnya, biarlah Allah yang memilihkan yang terbaik untukmu. Sungguh, hikmah dari Allah terserak di mana-mana, bahkan penjual tempe mendapatkannya.
Jumat, 08 Juni 2012
AIR MATA RASULULLAH,,,,,,,,,,,,,,
Tiba2 dri luar pintu t'dengar seseorang yg b'seru mngucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" Tanyanya.
Tapi Fatimah tdak mengizinkanny masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yg membalikkan badan dan mnutup pintu.
Kemudian ia kembali mnemui ayahnya yg trnyata sudah membuka mata dan brtanya pda Fatimah, "Siapakah itu whai anakku?".
"Tak thulah ayahku, spertinya baru kali ini aku mlihatnya", tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya dg pandangan yg menggetarkan. Seolah olah bagian demi bagian wajah anakny itu hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yg mnghapus knikmatan sementara, dialah yg memisahkan prtemuan di dunia. Dialah Malaikat maut."kata Rasulullah, Fatimahpun mnahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut Datang menghampiri, tapi Rasulullah menyakan kenpa Jibril tidak ikut menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yg sbelumnya sudah bersiap di atas langit dunia mnyambut ruh kekasih Allah.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hdapan Allah?" Tanya Rasulullah dg suara yg amat lemah.
"Pintu2 langit tlah trbuka, para Malaikat tlah mnanti ruhmu. Smua surga trbuka lebar mnanti kdatanganmu," kata Jibril. Tapi trnyata tdak membuat Rasulullah lega, matanya msih pnuh kecemasan.
"Engkau tdak senang mndengar kbar ini?" Tnya Jibril lagi.
"Kbarkan kpadaku bgaimana nasib umatku kelak?" Rasulullah brtanya.
"Jangan khawatir, Wahai Rasul Allah, aku pernah mndengar Allah brfiman kpadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kcuali ummat Muhammad tlah brada di dalamnya," kata Jibril.
Detik2 smakin dekat, saatnya Izrail mlaksanakn tugas.
Perlahan Ruh Rasulullah ditarik.
Nampak sluruh tubuh Rasulullah brsimbah peluh, urat2 lehernya mnegang, "Jibril btapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah trpejam, Ali yg brada di sampingnya mnunduk smakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kamu mlihatku, hingga kamu memalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pda malaikat pengantar Wahyu itu
. "Siapakah yg sanggup mlihat kekasih Allah direnggut ajal,"kata Jibril.
Sebentar trdengar Rasulullah mngaduh, krna sakit yg tdak trtahankan lagi.
"Ya Allah, amat dahsyat maut ini, timpakan saja smua siksa maut ini pdaku, jangan pda Ummatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak brgerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali sgera mendekatkan telinganya, "Uushiikum bisshalati wa maa malakat aimanukum, Peliharalah shalat dan peliharalah orang yg lemah diantara kalian".
Di luar pintu tangis mulai trdengar brsahutan, para shabat saling brpelukan. Fatimah mnutup wajahnya dg kdua tangannya, dan Ali kmbali mndekatkan teliinganya ke bibir Rasulullah yg mulai kbiruan. "Ummatii, ummatii, U M M A T I I I? Ummatku, ummatku, ummatku." Dan, brakhirlah hidup mnusia yg pling mulia yg tlah membri sinar khidupan itu.
Kini, mampukah kita mncintai spertinya? Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Btapa cintanya Rasulullah kpda kita.
Dalam bulan Ramadlan ini, sampaikan kpada Saudara Muslim lainya agar timbul ksadaran untuk mncintai Allah dan RasulNya, sperti Allah dan Rasulnya mncintai kita. Karna sesungguhnya khidupan ini hanya fana belaka.....
Tapi Fatimah tdak mengizinkanny masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yg membalikkan badan dan mnutup pintu.
Kemudian ia kembali mnemui ayahnya yg trnyata sudah membuka mata dan brtanya pda Fatimah, "Siapakah itu whai anakku?".
"Tak thulah ayahku, spertinya baru kali ini aku mlihatnya", tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya dg pandangan yg menggetarkan. Seolah olah bagian demi bagian wajah anakny itu hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yg mnghapus knikmatan sementara, dialah yg memisahkan prtemuan di dunia. Dialah Malaikat maut."kata Rasulullah, Fatimahpun mnahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut Datang menghampiri, tapi Rasulullah menyakan kenpa Jibril tidak ikut menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yg sbelumnya sudah bersiap di atas langit dunia mnyambut ruh kekasih Allah.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hdapan Allah?" Tanya Rasulullah dg suara yg amat lemah.
"Pintu2 langit tlah trbuka, para Malaikat tlah mnanti ruhmu. Smua surga trbuka lebar mnanti kdatanganmu," kata Jibril. Tapi trnyata tdak membuat Rasulullah lega, matanya msih pnuh kecemasan.
"Engkau tdak senang mndengar kbar ini?" Tnya Jibril lagi.
"Kbarkan kpadaku bgaimana nasib umatku kelak?" Rasulullah brtanya.
"Jangan khawatir, Wahai Rasul Allah, aku pernah mndengar Allah brfiman kpadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kcuali ummat Muhammad tlah brada di dalamnya," kata Jibril.
Detik2 smakin dekat, saatnya Izrail mlaksanakn tugas.
Perlahan Ruh Rasulullah ditarik.
Nampak sluruh tubuh Rasulullah brsimbah peluh, urat2 lehernya mnegang, "Jibril btapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah trpejam, Ali yg brada di sampingnya mnunduk smakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kamu mlihatku, hingga kamu memalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pda malaikat pengantar Wahyu itu
. "Siapakah yg sanggup mlihat kekasih Allah direnggut ajal,"kata Jibril.
Sebentar trdengar Rasulullah mngaduh, krna sakit yg tdak trtahankan lagi.
"Ya Allah, amat dahsyat maut ini, timpakan saja smua siksa maut ini pdaku, jangan pda Ummatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak brgerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali sgera mendekatkan telinganya, "Uushiikum bisshalati wa maa malakat aimanukum, Peliharalah shalat dan peliharalah orang yg lemah diantara kalian".
Di luar pintu tangis mulai trdengar brsahutan, para shabat saling brpelukan. Fatimah mnutup wajahnya dg kdua tangannya, dan Ali kmbali mndekatkan teliinganya ke bibir Rasulullah yg mulai kbiruan. "Ummatii, ummatii, U M M A T I I I? Ummatku, ummatku, ummatku." Dan, brakhirlah hidup mnusia yg pling mulia yg tlah membri sinar khidupan itu.
Kini, mampukah kita mncintai spertinya? Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Btapa cintanya Rasulullah kpda kita.
Dalam bulan Ramadlan ini, sampaikan kpada Saudara Muslim lainya agar timbul ksadaran untuk mncintai Allah dan RasulNya, sperti Allah dan Rasulnya mncintai kita. Karna sesungguhnya khidupan ini hanya fana belaka.....
TRAGEDI RAWA GEDE
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Senin, 8 Desember 1947.
Lukas Kustario menghimpun kekuatan di Rawagede. Dia seorang serdadu. Pangkat Kapten. Suka nekat dengan nyali seribu. Petinggi militer Belanda memberinya julukan si Begundal Karawang. Kerjanya selalu bikin berang kumpeni.
Berkali-kali Lukas sukses menggempur pos militer Belanda. Dia juga jadi momok sebab kerap menyergap mendadak patroli serdadu Kumpeni di daerah-daerah di sekitar Bekasi dan Karawang.
Berkali-kali diserbu dengan cara mengejutkan, militer Belanda membuat perhitungan dengan Lukas. Dan suatu ketika petinggi serdadu di Jakarta mendengar informasi Lukas bakal melintas di Rawagede.
Rawagede adalah sebuah desa di Rawamerta. Terletak di antara Bekasi dan Karawang, Rawagede sudah menjadi markas gabungan semua laskar pejuang kemerdekaan. Di situ ada Laskar Citarum, Barisan Banteng, Hizbullah, juga kelompok laskar lain yang menyala semangatnya mengusir Belanda.
Di kawasan itu banyak orang kaya. Semangat mereka untuk merdeka juga membara. Itu sebabnya para laskar membangun basis di sini. Kaum berada itu suka cita menyumbang logistik. Tanpa diminta. Bukan hanya telur ayam. Kerbau pun mereka sumbang. Demi republik.
Pagi itu, Kapten Lukas hendak menghela pasukan ke Cililitan. Menyerang basis serdadu kumpeni di Jakarta. Persiapan sudah matang. Tapi sungguh celaka tiga belas. Pukul sembilan pagi, seorang mata-mata melapor ke Markas Belanda. Belanda berang. Pasukan bersenjata bergegas. Menyusun siasat menyerbu duluan. Pukul empat sore masuk berita dari Karawang. Rawagede bakal dibumihangus.
Penduduk di sana gemetar. Apalagi Kapten Lukas yang cekatan itu sudah membawa pasukan. Sudah tiba di Cibinong. Dan yang terjadi sore itu memang bukan perang. Tapi pembunuhan. Warga desa dihajar ribuan serdadu kumpeni. Berusaha bertahan warga desa membangun benteng. Serdadu Belanda susah merangsek.
Tapi benteng itu cuma sakti sejenak. Sebab serdadu Belanda menganti siasat. Menyerbu dari semua sudut. Jadilah kampung itu terkurung. Warga setempat menyebut siasat model beginian sebagai pengepungan “letter O”. Pukul 12 malam Rawagede sudah di “letter O” oleh Belanda.
Warga kampung melawan ribuan serdadu, jelas bukan perang. Kalah jumlah. Kalah senjata. Di keremangan Selasa subuh, 9 Desember 1947, sebagian warga berusaha kabur dari neraka jahanam itu. Berlari ke arah sawah. Celaka, Belanda sudah menunggu di situ.
Sebagian ditangkap. Sisanya putar balik. Kembali ke desa. Tapi mereka yang berlari pulang itulah yang sial. Pelor berdesing mengejar. Menancap di badan, berjatuhan, lalu mati. Merasa di atas angin, pasukan Belanda merangsek masuk desa. Warga yang bertahan lintang pukang mencari perlindungan.
Tapi yang ada cuma rumah penduduk yang gemetar. Yang mengunci rapat pintu rumah. Cuma sedikit yang membuka pintu. Tapi Belanda justru menaruh curiga dengan rumah-rumah yang terkunci rapat itu. Pintu didobrak, mengeledah semua sudut rumah, dan mengiring penghuni keluar.
Di halaman kampung mereka dibariskan. Laki-laki disuruh berjejer. Ketakutan tiada terkira menyapu wajah mereka. “ Di mana Lukas?” bentak seorang tentara Belanda. Mereka yang berjejer ketakutan itu diam seribu bahasa. Dipaksa buka mulut, mereka cuma menjawab, “Tidak tahu.” Para serdadu Belanda itu murka alang kepalang.
Dan “tidak tahu” itu bisa berarti kematian. Peluru langsung menghujam. Mereka yang berjejer itu berjatuhan. Tersungkur menemui ajal termasuk para lelaki belia belasan tahun. Warga di sana menyebut penembakan model beginian, di dredet.
Pukul 12 siang serdadu Belanda menemukan sebuah rumah yang dipenuhi pejuang dan warga. Dari wanita tua hingga anak-anak Belia. Pasukan Kumpeni langsung memberondong. Sebagian langkah seribu masuk hutan. Banyak pula yang lari lewat saluran air. Berlari sembunyi ke arah sungai. Banyak yang masuk ke dalam air. Juga sembunyi di bantaran sungai, di antara rerimbunan rindang pohon. Agak aman memang.
Tapi itu cuma sementara. Sebab serdadu Belanda menghela anjing galak ke bantaran sungai. Anjing-anjing itu menggonggong seperti sedang berburu. Tahu ada warga di sana, para serdadu beramai-ramai memberondong. Mereka berjatuhan bersimbah darah. Mayat-mayat mengambang dan hanyut. Air sungai berubah merah darah.
Hari itu, 9 Desember 1947, 431 warga laki-laki sipil Rawagede mati bersimbah darah. Hari itu, para lelaki punah dari kampung ini. Hanya tersisa kaum wanita. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mengenang anak, suami dan ayah yang bertebar tanpa jiwa di sawah-sawah dan bantaran sungai.
Para wanita itu cuma bisa termangu. Ratusan jenasah itu urung dimakamkan sebab malam sudah datang. Esok harinya, Rabu 10 Desember 1947 ratusan wanita kampung bahu membahu mengangkut jenazah. Mengubur anak, suami, juga ayah.
Berhari-hari, bertahun-tahun kemudian Rawagede menjadi kampung janda. Penyair kondang, Chairil Anwar, mengenang pembantaian itu lewat sajak Karawang Bekasi. Chairil menulis sajak itu di daerah Anjun, dekat Masjid Agung Karawang
Atau tidak untuk apa-apa
Senin, 8 Desember 1947.
Lukas Kustario menghimpun kekuatan di Rawagede. Dia seorang serdadu. Pangkat Kapten. Suka nekat dengan nyali seribu. Petinggi militer Belanda memberinya julukan si Begundal Karawang. Kerjanya selalu bikin berang kumpeni.
Berkali-kali Lukas sukses menggempur pos militer Belanda. Dia juga jadi momok sebab kerap menyergap mendadak patroli serdadu Kumpeni di daerah-daerah di sekitar Bekasi dan Karawang.
Berkali-kali diserbu dengan cara mengejutkan, militer Belanda membuat perhitungan dengan Lukas. Dan suatu ketika petinggi serdadu di Jakarta mendengar informasi Lukas bakal melintas di Rawagede.
Rawagede adalah sebuah desa di Rawamerta. Terletak di antara Bekasi dan Karawang, Rawagede sudah menjadi markas gabungan semua laskar pejuang kemerdekaan. Di situ ada Laskar Citarum, Barisan Banteng, Hizbullah, juga kelompok laskar lain yang menyala semangatnya mengusir Belanda.
Di kawasan itu banyak orang kaya. Semangat mereka untuk merdeka juga membara. Itu sebabnya para laskar membangun basis di sini. Kaum berada itu suka cita menyumbang logistik. Tanpa diminta. Bukan hanya telur ayam. Kerbau pun mereka sumbang. Demi republik.
Pagi itu, Kapten Lukas hendak menghela pasukan ke Cililitan. Menyerang basis serdadu kumpeni di Jakarta. Persiapan sudah matang. Tapi sungguh celaka tiga belas. Pukul sembilan pagi, seorang mata-mata melapor ke Markas Belanda. Belanda berang. Pasukan bersenjata bergegas. Menyusun siasat menyerbu duluan. Pukul empat sore masuk berita dari Karawang. Rawagede bakal dibumihangus.
Penduduk di sana gemetar. Apalagi Kapten Lukas yang cekatan itu sudah membawa pasukan. Sudah tiba di Cibinong. Dan yang terjadi sore itu memang bukan perang. Tapi pembunuhan. Warga desa dihajar ribuan serdadu kumpeni. Berusaha bertahan warga desa membangun benteng. Serdadu Belanda susah merangsek.
Tapi benteng itu cuma sakti sejenak. Sebab serdadu Belanda menganti siasat. Menyerbu dari semua sudut. Jadilah kampung itu terkurung. Warga setempat menyebut siasat model beginian sebagai pengepungan “letter O”. Pukul 12 malam Rawagede sudah di “letter O” oleh Belanda.
Warga kampung melawan ribuan serdadu, jelas bukan perang. Kalah jumlah. Kalah senjata. Di keremangan Selasa subuh, 9 Desember 1947, sebagian warga berusaha kabur dari neraka jahanam itu. Berlari ke arah sawah. Celaka, Belanda sudah menunggu di situ.
Sebagian ditangkap. Sisanya putar balik. Kembali ke desa. Tapi mereka yang berlari pulang itulah yang sial. Pelor berdesing mengejar. Menancap di badan, berjatuhan, lalu mati. Merasa di atas angin, pasukan Belanda merangsek masuk desa. Warga yang bertahan lintang pukang mencari perlindungan.
Tapi yang ada cuma rumah penduduk yang gemetar. Yang mengunci rapat pintu rumah. Cuma sedikit yang membuka pintu. Tapi Belanda justru menaruh curiga dengan rumah-rumah yang terkunci rapat itu. Pintu didobrak, mengeledah semua sudut rumah, dan mengiring penghuni keluar.
Di halaman kampung mereka dibariskan. Laki-laki disuruh berjejer. Ketakutan tiada terkira menyapu wajah mereka. “ Di mana Lukas?” bentak seorang tentara Belanda. Mereka yang berjejer ketakutan itu diam seribu bahasa. Dipaksa buka mulut, mereka cuma menjawab, “Tidak tahu.” Para serdadu Belanda itu murka alang kepalang.
Dan “tidak tahu” itu bisa berarti kematian. Peluru langsung menghujam. Mereka yang berjejer itu berjatuhan. Tersungkur menemui ajal termasuk para lelaki belia belasan tahun. Warga di sana menyebut penembakan model beginian, di dredet.
Pukul 12 siang serdadu Belanda menemukan sebuah rumah yang dipenuhi pejuang dan warga. Dari wanita tua hingga anak-anak Belia. Pasukan Kumpeni langsung memberondong. Sebagian langkah seribu masuk hutan. Banyak pula yang lari lewat saluran air. Berlari sembunyi ke arah sungai. Banyak yang masuk ke dalam air. Juga sembunyi di bantaran sungai, di antara rerimbunan rindang pohon. Agak aman memang.
Tapi itu cuma sementara. Sebab serdadu Belanda menghela anjing galak ke bantaran sungai. Anjing-anjing itu menggonggong seperti sedang berburu. Tahu ada warga di sana, para serdadu beramai-ramai memberondong. Mereka berjatuhan bersimbah darah. Mayat-mayat mengambang dan hanyut. Air sungai berubah merah darah.
Hari itu, 9 Desember 1947, 431 warga laki-laki sipil Rawagede mati bersimbah darah. Hari itu, para lelaki punah dari kampung ini. Hanya tersisa kaum wanita. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mengenang anak, suami dan ayah yang bertebar tanpa jiwa di sawah-sawah dan bantaran sungai.
Para wanita itu cuma bisa termangu. Ratusan jenasah itu urung dimakamkan sebab malam sudah datang. Esok harinya, Rabu 10 Desember 1947 ratusan wanita kampung bahu membahu mengangkut jenazah. Mengubur anak, suami, juga ayah.
Berhari-hari, bertahun-tahun kemudian Rawagede menjadi kampung janda. Penyair kondang, Chairil Anwar, mengenang pembantaian itu lewat sajak Karawang Bekasi. Chairil menulis sajak itu di daerah Anjun, dekat Masjid Agung Karawang
Kunir Emas
Kisah nyata saat salah seorang teman q pulang dr pondok dan menikah.
Stelah mnikah dia tdk di anggap oleh mertuany krna dia adlh anak orang miskin.
Dg keadaan inilah dia bertekad agar bsa mnjadi kaya, wal hasil dia mlakukan sbuah tirakad amalan do'a nur buat yg di baca 100X saat mau menanam kunir pd wktu tengah malam di tempat yg sangat sepi...
Yg khasiatny bsa merubah kunir menjadi Emas.
Slama 40 hari dia b'puasa dan membaca do'a sbnyk 100X tiap tengah malam agar kunir bisa berubah jdi emas.
Singkat crita tiap hari dia tlah mrencanakan apa saja yg akan dia beli jika nanti kunir itu jdi emas.
40 hri tlah b'lalu dan tiba saatny dia panen kunir trsbut.
Saat tngah malam dia prgi ke tempat mnanam kunir untuk di panen, dan apa yg t'jadi??
Stelah 40 hari kunir tetaplah kunir tk bsa jdi emas...
Dri kisah itu, bukan salah do'a yg di baca knpa kok kunirny gk jdi emas...
Tpi sbrapa dekat kah kita kpd sang Kholiq dan sbrapa besar dosa kita padaNYA. Kalau yg membaca do'a itu adlh Imam Syekh Abu Hasan AsSyadzili psti hsilny akan b'beda, tpi kalau yg baca adlh kita manusia yg penuh dg nafsu dan dosa maka Kunir tetaplah kunir tk bsa jd Emas...
Allahu Akbar... LAAILAAHAILLALLOH...
Stelah mnikah dia tdk di anggap oleh mertuany krna dia adlh anak orang miskin.
Dg keadaan inilah dia bertekad agar bsa mnjadi kaya, wal hasil dia mlakukan sbuah tirakad amalan do'a nur buat yg di baca 100X saat mau menanam kunir pd wktu tengah malam di tempat yg sangat sepi...
Yg khasiatny bsa merubah kunir menjadi Emas.
Slama 40 hari dia b'puasa dan membaca do'a sbnyk 100X tiap tengah malam agar kunir bisa berubah jdi emas.
Singkat crita tiap hari dia tlah mrencanakan apa saja yg akan dia beli jika nanti kunir itu jdi emas.
40 hri tlah b'lalu dan tiba saatny dia panen kunir trsbut.
Saat tngah malam dia prgi ke tempat mnanam kunir untuk di panen, dan apa yg t'jadi??
Stelah 40 hari kunir tetaplah kunir tk bsa jdi emas...
Dri kisah itu, bukan salah do'a yg di baca knpa kok kunirny gk jdi emas...
Tpi sbrapa dekat kah kita kpd sang Kholiq dan sbrapa besar dosa kita padaNYA. Kalau yg membaca do'a itu adlh Imam Syekh Abu Hasan AsSyadzili psti hsilny akan b'beda, tpi kalau yg baca adlh kita manusia yg penuh dg nafsu dan dosa maka Kunir tetaplah kunir tk bsa jd Emas...
Allahu Akbar... LAAILAAHAILLALLOH...
Minggu, 18 Maret 2012
Lirik lagu Ungu Feat Rossa Ku Pinang Kau Dengan Bismillah
Tuhan memberikan ku cinta
Untukku persembahkan hanyalah padamu
Dia anugerahkan ku kasih
Hanya untuk berkasih berbagi denganmu
Atas restu Allah ku ingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah ku mencintai dirimu
Ku pinang kau dengan Bismillah
Hampa terasa bila ku tanpamu
Hidupku terasa mati jika ku tak bersamamu
Hanya dirimu satu yang aku inginkan
Ku bersumpah sampai mati hanyalah dirimu
Atas restu Allah, ku ingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Atas Restu Allah ku mencintai dirimu
Ku pinang kau dengan Bismillah
Atas restu Allah, ku ingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah ku mencintai dirimu
Ku pinang kau dengan Bismillah
Lirik lagu Ungu Dia Atau Diriku
Sungguh tak mungkin
Dalam kisah ini
Kita ‘kan bersatu
Bila tak pernah
Ada perasaaan
Cinta seutuhnya
Kini akhirnya
Kau harus memilih
Dia atau dirku
Yang pantas mendapatkan
Pantas menjadi kekasihmu
[*]
Sampai kapankah kita
Akan bersama bila tak pernah ada
Perasaan cinta natara kita
Perasaan saling menyayangi
[**]
Sampai kapankah kita
Akan bersama bila kau hanya bisa
Mencintaiku separuh hatimu
Separuh kau mencintainya
Sungguh tak mungkin
Sungguh tak bisa
Kita ‘kan bersama
Bila kau masih membagi cinta
Back to [*][**]
Langganan:
Komentar (Atom)