Jumat, 08 Juni 2012

AIR MATA RASULULLAH,,,,,,,,,,,,,,

Tiba2 dri luar pintu t'dengar seseorang yg b'seru mngucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" Tanyanya.
Tapi Fatimah tdak mengizinkanny masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yg membalikkan badan dan mnutup pintu.
Kemudian ia kembali mnemui ayahnya yg trnyata sudah membuka mata dan brtanya pda Fatimah, "Siapakah itu whai anakku?".
 "Tak thulah ayahku, spertinya baru kali ini aku mlihatnya", tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya dg pandangan yg menggetarkan. Seolah olah bagian demi bagian wajah anakny itu hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yg mnghapus knikmatan sementara, dialah yg memisahkan prtemuan di dunia. Dialah Malaikat maut."kata Rasulullah, Fatimahpun mnahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut Datang menghampiri, tapi Rasulullah menyakan kenpa Jibril tidak ikut menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yg sbelumnya sudah bersiap di atas langit dunia mnyambut ruh kekasih Allah.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hdapan Allah?" Tanya Rasulullah dg suara yg amat lemah.
 "Pintu2 langit tlah trbuka, para Malaikat tlah mnanti ruhmu. Smua surga trbuka lebar mnanti kdatanganmu," kata Jibril. Tapi trnyata tdak membuat Rasulullah lega, matanya msih pnuh kecemasan.
 "Engkau tdak senang mndengar kbar ini?" Tnya Jibril lagi.
 "Kbarkan kpadaku bgaimana nasib umatku kelak?" Rasulullah brtanya.
 "Jangan khawatir, Wahai Rasul Allah, aku pernah mndengar Allah brfiman kpadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kcuali ummat Muhammad tlah brada di dalamnya," kata Jibril.
Detik2 smakin dekat, saatnya Izrail mlaksanakn tugas.
Perlahan Ruh Rasulullah ditarik.
Nampak sluruh tubuh Rasulullah brsimbah peluh, urat2 lehernya mnegang, "Jibril btapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah trpejam, Ali yg brada di sampingnya mnunduk smakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
 "Jijikkah kamu mlihatku, hingga kamu memalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pda malaikat pengantar Wahyu itu
. "Siapakah yg sanggup mlihat kekasih Allah direnggut ajal,"kata Jibril.
Sebentar trdengar Rasulullah mngaduh, krna sakit yg tdak trtahankan lagi.
"Ya Allah, amat dahsyat maut ini, timpakan saja smua siksa maut ini pdaku, jangan pda Ummatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak brgerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali sgera mendekatkan telinganya, "Uushiikum bisshalati wa maa malakat aimanukum, Peliharalah shalat dan peliharalah orang yg lemah diantara kalian".
Di luar pintu tangis mulai trdengar brsahutan, para shabat saling brpelukan. Fatimah mnutup wajahnya dg kdua tangannya, dan Ali kmbali mndekatkan teliinganya ke bibir Rasulullah yg mulai kbiruan. "Ummatii, ummatii, U M M A T I I I? Ummatku, ummatku, ummatku." Dan, brakhirlah hidup mnusia yg pling mulia yg tlah membri sinar khidupan itu.

Kini, mampukah kita mncintai spertinya? Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Btapa cintanya Rasulullah kpda kita.

Dalam bulan Ramadlan ini, sampaikan kpada Saudara Muslim lainya agar timbul ksadaran untuk mncintai Allah dan RasulNya, sperti Allah dan Rasulnya mncintai kita. Karna sesungguhnya khidupan ini hanya fana belaka.....

TRAGEDI RAWA GEDE

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa

Senin, 8 Desember 1947.
Lukas Kustario menghimpun kekuatan di Rawagede. Dia seorang serdadu. Pangkat Kapten. Suka nekat dengan nyali seribu. Petinggi militer Belanda memberinya julukan si Begundal Karawang. Kerjanya selalu bikin berang kumpeni.

Berkali-kali Lukas sukses menggempur pos militer Belanda. Dia juga jadi momok sebab kerap menyergap mendadak patroli serdadu Kumpeni di daerah-daerah di sekitar Bekasi dan Karawang.

Berkali-kali diserbu dengan cara mengejutkan, militer Belanda membuat perhitungan dengan Lukas. Dan suatu ketika petinggi serdadu di Jakarta mendengar informasi Lukas bakal melintas di Rawagede.

Rawagede adalah sebuah desa di Rawamerta. Terletak di antara Bekasi dan Karawang, Rawagede sudah menjadi markas gabungan semua laskar pejuang kemerdekaan. Di situ ada Laskar Citarum, Barisan Banteng, Hizbullah, juga kelompok laskar lain yang menyala semangatnya mengusir Belanda.

Di kawasan itu banyak orang kaya. Semangat mereka untuk merdeka juga membara. Itu sebabnya para laskar membangun basis di sini. Kaum berada itu suka cita menyumbang logistik. Tanpa diminta. Bukan hanya telur ayam. Kerbau pun mereka sumbang. Demi republik.

Pagi itu, Kapten Lukas hendak menghela pasukan ke Cililitan. Menyerang basis serdadu kumpeni di Jakarta. Persiapan sudah matang. Tapi sungguh celaka tiga belas. Pukul sembilan pagi, seorang mata-mata melapor ke Markas Belanda. Belanda berang. Pasukan bersenjata bergegas. Menyusun siasat menyerbu duluan. Pukul empat sore masuk berita dari Karawang. Rawagede bakal dibumihangus.

Penduduk di sana gemetar. Apalagi Kapten Lukas yang cekatan itu sudah membawa pasukan. Sudah tiba di Cibinong. Dan yang terjadi sore itu memang bukan perang. Tapi pembunuhan. Warga desa dihajar ribuan serdadu kumpeni. Berusaha bertahan warga desa membangun benteng. Serdadu Belanda susah merangsek.

Tapi benteng itu cuma sakti sejenak. Sebab serdadu Belanda menganti siasat. Menyerbu dari semua sudut. Jadilah kampung itu terkurung. Warga setempat menyebut siasat model beginian sebagai pengepungan “letter O”. Pukul 12 malam Rawagede sudah di “letter O” oleh Belanda.

Warga kampung melawan ribuan serdadu, jelas bukan perang. Kalah jumlah. Kalah senjata. Di keremangan Selasa subuh, 9 Desember 1947, sebagian warga berusaha kabur dari neraka jahanam itu. Berlari ke arah sawah. Celaka, Belanda sudah menunggu di situ.

Sebagian ditangkap. Sisanya putar balik. Kembali ke desa. Tapi mereka yang berlari pulang itulah yang sial. Pelor berdesing mengejar. Menancap di badan, berjatuhan, lalu mati. Merasa di atas angin, pasukan Belanda merangsek masuk desa. Warga yang bertahan lintang pukang mencari perlindungan.

Tapi yang ada cuma rumah penduduk yang gemetar. Yang mengunci rapat pintu rumah. Cuma sedikit yang membuka pintu. Tapi Belanda justru menaruh curiga dengan rumah-rumah yang terkunci rapat itu. Pintu didobrak, mengeledah semua sudut rumah, dan mengiring penghuni keluar.

Di halaman kampung mereka dibariskan. Laki-laki disuruh berjejer. Ketakutan tiada terkira menyapu wajah mereka. “ Di mana Lukas?” bentak seorang tentara Belanda. Mereka yang berjejer ketakutan itu diam seribu bahasa. Dipaksa buka mulut, mereka cuma menjawab, “Tidak tahu.” Para serdadu Belanda itu murka alang kepalang.

Dan “tidak tahu” itu bisa berarti kematian. Peluru langsung menghujam. Mereka yang berjejer itu berjatuhan. Tersungkur menemui ajal termasuk para lelaki belia belasan tahun. Warga di sana menyebut penembakan model beginian, di dredet.

Pukul 12 siang serdadu Belanda menemukan sebuah rumah yang dipenuhi pejuang dan warga. Dari wanita tua hingga anak-anak Belia. Pasukan Kumpeni langsung memberondong. Sebagian langkah seribu masuk hutan. Banyak pula yang lari lewat saluran air. Berlari sembunyi ke arah sungai. Banyak yang masuk ke dalam air. Juga sembunyi di bantaran sungai, di antara rerimbunan rindang pohon. Agak aman memang.

Tapi itu cuma sementara. Sebab serdadu Belanda menghela anjing galak ke bantaran sungai. Anjing-anjing itu menggonggong seperti sedang berburu. Tahu ada warga di sana, para serdadu beramai-ramai memberondong. Mereka berjatuhan bersimbah darah. Mayat-mayat mengambang dan hanyut. Air sungai berubah merah darah.

Hari itu, 9 Desember 1947, 431 warga laki-laki sipil Rawagede mati bersimbah darah. Hari itu, para lelaki punah dari kampung ini. Hanya tersisa kaum wanita. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mengenang anak, suami dan ayah yang bertebar tanpa jiwa di sawah-sawah dan bantaran sungai.

Para wanita itu cuma bisa termangu. Ratusan jenasah itu urung dimakamkan sebab malam sudah datang. Esok harinya, Rabu 10 Desember 1947 ratusan wanita kampung bahu membahu mengangkut jenazah. Mengubur anak, suami, juga ayah.

Berhari-hari, bertahun-tahun kemudian Rawagede menjadi kampung janda. Penyair kondang, Chairil Anwar, mengenang pembantaian itu lewat sajak Karawang Bekasi. Chairil menulis sajak itu di daerah Anjun, dekat Masjid Agung Karawang

Kunir Emas

Kisah nyata saat salah seorang teman q pulang dr pondok dan menikah.
Stelah mnikah dia tdk di anggap oleh mertuany krna dia adlh anak orang miskin.
Dg keadaan inilah dia bertekad agar bsa mnjadi kaya, wal hasil dia mlakukan sbuah tirakad amalan do'a nur buat yg di baca 100X saat mau menanam kunir pd wktu tengah malam di tempat yg sangat sepi...
Yg khasiatny bsa merubah kunir menjadi Emas.
Slama 40 hari dia b'puasa dan membaca do'a sbnyk 100X tiap tengah malam agar kunir bisa berubah jdi emas.
Singkat crita tiap hari dia tlah mrencanakan apa saja yg akan dia beli jika nanti kunir itu jdi emas.
40 hri tlah b'lalu dan tiba saatny dia panen kunir trsbut.
Saat tngah malam dia prgi ke tempat mnanam kunir untuk di panen, dan apa yg t'jadi??
Stelah 40 hari kunir tetaplah kunir tk bsa jdi emas...
Dri kisah itu, bukan salah do'a yg di baca knpa kok kunirny gk jdi emas...
Tpi sbrapa dekat kah kita kpd sang Kholiq dan sbrapa besar dosa kita padaNYA. Kalau yg membaca do'a itu adlh Imam Syekh Abu Hasan AsSyadzili psti hsilny akan b'beda, tpi kalau yg baca adlh kita manusia yg penuh dg nafsu dan dosa maka Kunir tetaplah kunir tk bsa jd Emas...
Allahu Akbar... LAAILAAHAILLALLOH...